Jumat, 20 Mei 2011

MAKALAH PROFESI KEGURUAN


Kemampuan Profesional Guru dalam Memahami dan Menjelaskan Tugas dan Peranan Guru dalam Bimbingan dan Konseling
A.    Kompetensi Guru dalam Memahami dan Menjelaskan Pengertian, Tujuan, Prinsif dan Peranan Bimbingan Konseling dalam Proses Pengajaran
1.      Program Bimbingan dan Konseling
Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi, dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang, (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung, (3) format kegiatan, sasaran pelayanan (4) , dan (5) volume/beban tugas konselor.
Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.
Dilihat dari jenisnya, program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program, yaitu:
  1. Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
  2. Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
  3. Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
  4. Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
  5. Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) >Bimbingan dan Konseling.[1]
2.      Mekanisme Bimbingan dan Konseling
Program pelayanan BK merupakan rencana layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan satu tahun dan dipecah menjadi program semesteran. Untuk pelaporan, dihimpun dari agenda harian dalam mingguan, bulan dan semester serta tahun. Tahap pelaksanaan program terdiri dari; (a) perencanaan, (b) Pelaksanaan, (c)Penilaian, (d) analisis hasil, (e)tindak lanjut. Dalam pelayanan BK, ada hak panggil terhadap siswa asuh yang menjadi tanggung jawabnya (dengan catatan; siswa yang dipanggil tidak dirugikan dalam mengikuti pelajaran)
Ada alur mekanisme yang diawali dengan ditemukannya kasus/ permasalahan individu/ siswa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas baik sifatnya akademis maupun nonakademis oleh personel sekolah terutama guru mata pelajaran, konfirmasi kepada wali kelas, bilamana belum terselesaikan permasalahannya dan membutuhkan peran bimbingan dan konseling, maka guru pembimbing/ konselor memberikan layanan kepada individu/ siswa. Untuk tindak lanjut dari layanan; kembali bersama wali kelas dan sepengetahuan kepala sekolah dalam hal ini dapat dibantu oleh para wakil kepala sekolah.
a.       Bagan mekanisme Kerja Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Guru mata Pelajaran
Wali Kelas
Bimbingan dan Konseling
Kepala Sekolah
1
2
3
4
Nilai siswa
1.      Kognisi
2.      Psikomotor
3.      Afeksi
Himpunan Nilai
Himpunan data
1.    Buku pribadi siswa
2.  Prediksi Keberhasilan Kognisi
3.  Hasil Psikotes
4.  Hasil Konseling Individu
Pengadaan Sarana (wakasek Sarpra)
Menemukan kasus/ permasalahan siswa
1.      Di dalam kelas
·         Kehadiran mengikuti pelajaran
·         Sikap menolak/ tidak interest (misal: sering mengantuk, pasif, keluar-masuk kelas, mengganggu PBM, dsb)
2.      Di luar kelas
·         Hubungan teman sebaya: konflik/ berhantam, dsb.
Menerima informasi kasus/ permasalahan siswa;
Diinventaris dan ditangani/ diselesaikan

Mengetahui dan menyetujui
Catatan:
1.      Anekdot/ kejadian
2.      Siswa yang memerlukan remidi
Bersama guru pembimbing/ konselor menemui OT siswa
1.  Hadir di sekolah untuk keperluan konsultasi
2.  Kunjungan rumah
3.  Konferensi siswa
Catatan:
1.      Agenda harian kegiatan (L. Konseling individu/ mengamati afeksi siswa) (satuan layanan untuk kunjungan rumah, konferensi kasus, alih tangan kasus)
2.      Laporan konseling
3.      Laporan bulanan dan semesteran (program BK  semesteran, rekapitulasi presensi kehadiran, konseling, konsultasi OT/ layanan dan kegiatan pendukung)
4.      Laporan tahunan (program bimbingan dan konseling)
Mengetahui
Keterangan:
Alur mekanisme kerja pelayanan BK (No;1     2     3    4)
Alur kinerja pelayanan bimbingan dan konseling, sifatnya fleksibel menyesuaikan dengan kondisi dan situasi sekolah, meskipun ada berbagai pertimbangan karakteristik peserta didik/ siswa maupun personil sekolah lainnya dan spesifikasi sekolah (misal sekolah unggulan, pendamping unggulan, dan reguler)
b.      Pola pelayanan dalam mekanisme kerja Bimbingan dan konseling
Pola pelayanan yang terdiri dari bidang-bidang; pribadi, sosial, belajar, dan karir serta kepribadian, dan layanan; orientasi, informasi, pembelajaran, penempatan dan penyaluran, konseling individu, konseling kelompok, konseling spritual dan bimbingan kelompok dan kegiatan pendukung; instrumentasi bimbingan, himpunan data, kunjungan rumah, dan konferensi kasus.
Pelayanan dibedakan 4 jenis kegiatan sebagai berikut:
1). Di dalam ruangan bimbingan dan konseling sifatnya layanan individual, ialah:
a). Layanan untuk konseling individu maupun layanan konseling spritual/ religius
b). Menemui orang tua siswa, wali kelas, guru mata pelajaran, instansi terkait, dan
c). Layanan konseling kelompok dan kegiatan pendukung konferensi kasus (di ruangan yang tersedia untuk pertemuan kecil)
2). Di dalam ruangan bimbingan dan konseling, sifatnya administrasi adalah;
a). Melaksanakan aplikasi instrumentasi bimbingan dan himpunan data;
b). Melaksanakan evaluasi/ pelaporan (kegiatan harian dan/ atau mingguan, konseling individu, dan lainnya); dan
c). Melaksanakan MGP sekolah (misalnya Selasa, minggu 1)
3). Di dalam kelas, ialah memberikan materi pelayanan bimbingan dan konseling, disertai silabi pelayanan BK.
4). Di luar sekolah, sifatnya kegiatan pendukung, yaitu;
a). Melaksanakan kunjungan rumah dan alih tangan kasus/ rujukan ke instansi terkait;
b). Melaksanakan kegiatan MGP tingkat kecamatan, minggu 2 dan tingkat wilayah, minggu 3, dan tingkat provinsi, minggu ke-4; dan
c). Kegiatan lain-lainnya.

3.      Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

4.      Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Peranan Guru dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
1. Peranan Guru pada Umumnya
Guru mempunyai peranan dan kedudukan kunci dalam keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya. Sehubungan dengan kualifikasi dan tugas guru, guru mengemban sekurang-kurangnya 3 tugas pokok, yaitu :
a. Tugas professional (professional task) yaitu tugas yang berkenaan dengan profesinya. Tugas ini mencakup tugas mendidik, mengajar, melatih dan mengelola ketertiban sekolah sebagai penunjang ketahanan sekolah.
b. Tugas manusiawi (human responsibility) yaitu tugasnya sebagai manusia. Dalam hal ini guru bertugas mewujudkan dirinya, dalam arti merealisasikan seluruh potensi yang dimilikinya.
c. Tugas kemasyarakatan (civic mission) yaitu tugas guru sebagai anggota masyarakat dan warga negara.
Menurut Bernard, ada beberapa syarat bagi guru, diantaranya yaitu :
a. Memiliki mental yang sehat
b. Menguasai cara-cara untuk menghindari pengaruh negative terhadap siswa.
c. Memperlakukan siswa sebagai yang unik.
d. Menghindari ucapan-ucapan yang melukai perasaan serta harga diri siswa.
2. Peranan Bimbingan dalam Pembelajaran
Keseluruhan kompetensi guru tampak dalam perilaku yang nyata (performance) dari guru yang bersangkutan. Perilaku nyata yang dilakukannya didasarkan pada berbagai unsur pendukung lainnya seperti berikut ini :
a. Penguasaan bahan pengajaran yang akan disajikan dalam proses belajar-mengajar.
b. Penguasaan dan penghayatan landasan professional guru.
c. Penguasaan dan pemanfaatan proses-proses yang diperlukan dalam menyajikan bahan pengajaran secara tepat.
d. Penyesuaian interaksional.
e. Kepribadian yang memperlihatkan internalisasi sikap, perasaan dan nilai-nilai yang diharapakan dari seorang guru.
Bolton mengemukakan 3 faktor situasional yang dapat mempengaruhi penampilan dan efektivitas guru, yaitu karakteristik :
a. Karakteristik siswa, termasuk hal-hal seperti sikap, minat,motivasi, semangat dan hasil belajar pada waktu yang lalu.
b. Karakterisitk kepala sekolah, termasuk sikap dan orientasi terhadap perubahan.
c. Karakteristik teman sejawat, ialah guru-guru lain di sekolah yang bersangkutan.
3. Peranan Guru dalam Bimbingan di Kelas
Keberhasilan belajar siswa akan lebih memadai, apabila guru menerapkan peran bimbingan dalam belajar mengajar, yang berupaya fasilitatif bagi perkembangan kepribadian siswanya, serta upaya bimbingan lain untuk membimbing siswa menentukan tujuan yang hendak dicapainya, membimbing siswa dalam menilai kebehasilannya dalam mencapai tujuan.

Sehubungan dengan peranan guru di sekolah dan beberapa penelitian yang menjadi pertimbangannya , maka guru dapat melakukan kegiatan/layanan bimbingan dengan langkah-langkah pokok, sebagai berikut :
a. Menghimpun data mengenai siswa.
b. Menganalisis data itu berdasarkan keadaan siswa pada saat terjadinya gejala kesulitan penyesuaian diri.
c. Merumuskan dugaan mengenai sumber kesulitan itu dan pendekatan yang dapat digunakan dalam memberikan bantuan kepada siswa tersebut.
d. Merencanakan langkah-langkah bantuan.
e. Melaksanakan langkah terebut.
f. Mengamati hasil bantuan yang diberikan.
g. Apabila langkah tersebut kurang atau tidak berhasil, lakukanlah perbaikan sampai hasilnya memadai.
4. Keterbatasan Guru dalam Bimbingan Di Kelas
Menurut Miller, terdapat beberapa keterbatasan guru yang ditinjaunya dari 2 alasan, yaitu rasionalisasi guru untuk menghindari tugas bimbingan dan alasan yang benar-benar merupakan keterbatasan teknis :
a. Guru mempunyai waktu yang terbatas untuk melaksanakan bimbingan.
b. Guru kurang mendapat latihan dan pengalaman untuk melakukan bimbingan.
c. Guru kurang memiliki kepribadian yang cocok untuk melakukan pekerjaan bimbingan.
d. Guru kurang aktif dalam mengatur jadwal kegiatannya untuk melaksanakan tugas-tugas bimbingan yang tidak merupakan bagian yang nyata dari pengajaran dikelas.
e. Dalam melaksanakan tugas pengajaran, guru seringkali dihadapakan pada situasi yang menuntutnya untuk memberikan konseling.
5. Perbedaan Mengajar dan Mengonseling
Miller (Natawidjaya, 1988) menemukan 3 perbedaan pokok antara proses pengajaran dan konseling, yaitu :
a. Disiplin, yang jelas harus dikembangkan dan dipertahankan oleh guru dalam kelas, sedangkan guru pembimbing seringkali harus meninggalkan disiplin untuk menciptakan suatu suasana hubungan pribadi yang memadai dengan kliennya.
b. Komunikasi, yang dilakukan oleh guru pada umumnya bersifat lisan dan guru memegang peran yang dominan sebaliknya guru pembimbing lebih banyak mendengarkan dan membangkitkan semangat klien untuk lebih banyak mengungkapkan keadaan pribadinya.
c. Tujuan yang hendak dicapai dalam pengajaran, pada umumnya ditentukan oleh sekolah dan masyarakat yang lebih luas, termasuk pemerintah sebaliknya kegiatan konseling mempunyai tujuan yang tidak begitu saja dapat dirumuskan sebelum kegiatan itu berlangsung.
Ada beberapa pertimbangan, mengapa guru juga harus melakukan kegiatan bimbingan dalam proses pembelajaran kepada siswa. Dalam hal ini Miller mengatakan :
a. Proses belajar menjadi sangat efektif, apabila bahan yang dipelajari dikaitkan langsung dengan tujuan pribadi siswa.
b. Guru yang memahami siswa dan masalah yang dihadapinya, lebih peka terhadap hal-hal yang dapat memperlancar dan mengganggu kelancaran kegiatan kelas.

B.     Kompetensi Guru dalam Menyusun ProgramBimbingan Berbagai Komponen yang Terlibat dalam Mekanisme Pelaksanaan Program Bimbingan Konseling di Sekolah dan Memahami Peranan Guru dalam Pelaksanaan Program Tersebut
Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa proses pendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukan mentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alat adalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisi pendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi serta bimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58).
Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.
 Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
 Realitas di lapangan menunjukkan bahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab guru kelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikit :
1.Bagaimana peran guru dalam penyusunan program Bimbingan dan Konseling?
2.  Apakah kita sebagai mahasiswa dapat melaksanakan peranan tersebut ?


Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11)
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
Kegiatan bimbingan dan konseling pada dasarnya adalah usaha sadar yang dilakukan oleh guru pembimbing bersama siswa untuk mencapai kemandirian dalam keseluruhan proses kehidupan, baik sebagai individu, anggota kelompok, keluarga atau masyarakat pada umumnya.
Tugas Guru BK/Konselor dan Pengawas Bimbingan dan Konseling Menurut PP No. 74 Tahun 2008:
Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor terkait dengan pengembangan diri peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.
Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
  1. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
  2. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
  3. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
  4. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA DAN ETOS KERJA


FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA & PENCIPTAAN ETOS KERJA
A.    FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA
1.      PENGERTIAN FILSAFAT PANCASILA
Pengertian Filsafat Pancasila 
Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Kenyataannya definisi filsafat dalam filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh beberapa filsuf Indonesia. Pancasila dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat Pancasila senantiasa diperbarui sesuai dengan “permintaan” rezim yang berkuasa, sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu.
Filsafat Pancasila Asli
Pancasila merupakan konsep adaptif filsafat Barat. Hal ini merujuk pidato Sukarno di BPUPKI dan banyak pendiri bangsa merupakan alumni Universitas di Eropa, di mana filsafat barat merupakan salah satu materi kuliah mereka. Pancasila terinspirasi konsep humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi, sosialisme Jerman, demokrasi parlementer, dan nasionalisme.
Filsafat Pancasila versi Soekarno 
Filsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh Sukarno sejak 1955 sampai berakhirnya kekuasaannya (1965). Pada saat itu Sukarno selalu menyatakan bahwa Pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen), dan Arab (Islam). Menurut Sukarno “Ketuhanan” adalah asli berasal dari Indonesia, “Keadilan Soasial” terinspirasi dari konsep Ratu Adil. Sukarno tidak pernah menyinggung atau mempropagandakan “Persatuan”.
Filsafat Pancasila versi Soeharto
Oleh Suharto filsafat Pancasila mengalami Indonesiasi. Melalui filsuf-filsuf yang disponsori Depdikbud, semua elemen Barat disingkirkan dan diganti interpretasinya dalam budaya Indonesia, sehingga menghasilkan “Pancasila truly Indonesia”. Semua sila dalam Pancasila adalah asli Indonesia dan Pancasila dijabarkan menjadi lebih rinci (butir-butir Pancasila). Filsuf Indonesia yang bekerja dan mempromosikan bahwa filsafat Pancasila adalah truly Indonesia antara lain Sunoto, R. Parmono, Gerson W. Bawengan, Wasito Poespoprodjo, Burhanuddin Salam, Bambang Daroeso, Paulus Wahana, Azhary, Suhadi, Kaelan, Moertono, Soerjanto Poespowardojo, dan Moerdiono.
Berdasarkan penjelasan diatas maka pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.[1]
2.      DASAR-DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA
Secara yuridis konstisional Negara Indonesia berdasarkan pancasila yang termaksud dab pembukaan UUd 45 alinea ke-4 Ketentuan yuridis kontisional mengandung makna baik formal maupun fungsional menyatakan :
1)      Pancasila adalah dasar Negara atau filsafat Negara
2)      Pancasila adalah norma-norma dasar dan norma-norma tertinggi dalam Negara R.I
3)      Pancasila adalah ideology Negara
4)      Pancasila adalah identitas dan karakteristik bangsa atau kepribadian nasional
5)      Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa.
Nilai-nilai dalam social budaya Indonesia :
a)      Kesadaran mengakui adanya tuhan dan kepercayaan Negara
b)      Kesadaran keluarga
c)      Kesadaran musyawarah mufakat dalam akhlak
d)      Kesadaran gotong royong, tolong menolong
e)      Kesadaran tenggang rasa / tepa selera.
3.       Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila
Hubungan masyarakat dan Pendidikan
Pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan modern pula, pendidikan yang main dan modern hanya diselenggarakan oleh masyarakat yang maju dan modern, secara teoritis disebut hubungan korelasi positif.
Manusia sebagai individual, yang menentukan sikap dan wawasannya kebijaksanaan dan strategi serta tujuan dan sasaran yang hendak ditempuhnya. Pertimbangan dan penentuan ini diambil berdasarkan keyakinan, motivasi dan tujuan dalam hidupnya, maka manusia sebagai subjek individual, pendidikan adalah suatu usaha, aktifitas yang dilakukan menurut tujuan dan kehendaknya (cita karsa) secara mandiri. Bagi anak tujuan dan kehendak belajar dipenuhi oleh factor lingkungan, orang tua / keluarga. Demikian pula dengan masyarakat ! bangsa dan Negara factor luar adalah kondisi dan tantangan zaman dan potensi-potensi yang dimiliki (sumber daya alam, sumber daya manusia dan kebudayaan).
Manusia pribadi atau masyarakat memiliki keyakinan dan kepercayaan yang tercermin dalam tujuan (cita-cita) dan hasrat luhur atau kehendak berdasarkan cita dan karsa memilih dan menerapkan aktifitas / fungsi kehidupan atau usaha mendidik dirinya. Pendidikan merupakan fungsi manusia dan masyarakat untuk mengembangkan dan meningkatkan dirinya, martabat dan kepribadiannya. Hubungan masyarakat dengan pendidikan itu sebagai hubungan fungsional berarti :
a)      Bahwa masyarakat atau Negara secara sadar dan mandiri cita karsa atau tujuan dan keinginan luhur akan dicapai melalui kebijakan, lembaga dan strategi tertentu.
b)      Pendidikan suatu lembaga, perwujudannya secara nasional adalah system pendidikan nasional yang bersumber dan ditentukan oleh cita karsa manusia menurut keyakinan dan pandangan hidup dan filsafat Negara sebagai sumber nilai cita dan kepribadian nasionalnya[2]
B.   ETOS KERJA
1.      Filsafat pekerjaan
Namun, sebelum kita memasuki masalah etos pekerjaan, ada gunanya kita sebentar melihat-lihat sejarah filsafat pekerjaan yang menghasilkan analisis Hegel.
            Yang paling mencolok ialah kenyataan bahwa selama berabad-abad para filosuf sama sekali tidak memperhatikan pekerjaan. Padahal tak ada seorang filsuf  yang akan bisa hidup dan berfilsafat kalau tak ada orang lain yang mengolah tanah untuknya, menghasilkan makanan dan menjahitkan pakaiannya. Filsafat India dan filsafat-filsafat ynag dipengaruhi olehnya nampaknay sama sekali diam tentang pekerjaan. Dalam ceritera wayang pun percuma kita mencari tahu dari mana para pandawa mendapat nasinya setiap hari agar kuat menjalankan BarataYudha. Dibarat pun keadaan tidak amt berlainan. Aristoteles misalnya berpendapat bahwa orang baru dapat hidup secara betul-betul manusiawi, apabila ia tak perlu bekerja demi nafkah hidupnya. Seorang budak (yaitu manusia milik manusia lain) olehnya belum dianggap merupakan manusia sungguh-sungguh (dalam hal ini ada benarnya: keadaan sebagau budak memang tidak sesuai dengan martabat manusia; maka justru karena budak pun merupakan manusia, keadaaanya itu tidak wajar; sedangkan Aristoteles tidak melihat sesuatu yang tak wajar dalam keadaan budak sehingga konsekuensilah apabila ia menyangkal kemanusiaaan si budak).
            Bahwa di zaman pra- industri phenomena pekerjaan hamper tidak mendapat perhatian teoritis, kiranya tidak lepas dari dua segi penting dalam cara produksi pada zaman itu. Pertama, orang yang bekerja sebagai tukang selalu sudah bekerja secara maksimal: dari pagi sampai malam dan tanpa libur (kecuali hari raya), dan dengan keterampilan tingkat tinggi. Masalah penambahan jumlah pekerjaan ataupun perbaikan kualitasnya hampir tidak bisa muncul. Bekerja begitupun dianggap biasa dan tak ada banyak perangsang ataupun kemungkian untuk mengubahnya. Kedua, dibidang pertanian-bidang pekerjaan utama di masa itu-manusia bekerja mengerahui bahwa hasil pekerjaannya dibatasi oleh faktor alam: diatas batas tertentu suatu tambahan pekerjaan tidak akan di imbangi oleh hasil.
            Tetapi perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan dalam abd ke-17 dan ke-18 dan pemanfaatannya secara komersial mendubrak apa yang sebelumnya dianggap batas-batas alamiah kemampuan kerja manusia. Di satu pihak cara produksi industrial memungkiankan pelipatgandaan produktivitas pekerjaan manusia hamper tanpa batas. Dan itu menjadikan cara kerja menjadi faktor kunci produksi. Di pihak lain dalam kapitalisme ( peralihan dari ekonomi natural ke ekonomi uang) usaha untuk terus-menerus dan tanpa batas memperbesar produksi menjadi keharusan ekonomis.
            Dengan demikian pekerjaan sebagai salah satu faktor produksi utama mau tak mau harus di beri perhatian, juga oleh para filsuf. John Locke, bapak falsafi borjuasi modern, menyatakan, behwa mengerjakn suatu benda alam adalah cara untuk memperolah hak milik atasnya. Filsuf moaral berkebangsaan Skot, Adam Smith, mengemukakan pendapat yang lalu menjadi dasar teori Marx tentang nilai lebih, yaitu bahwa segala harta benda kebudayaan, seluruh kekeyaan umat manusia, akhirnya harus dikembalika kepada pekerjaan jasmani: pekerjaan jasmani dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menciptakan nilai tukar ekonomis. Dalam hal ini Smith membedakan antara pekerjaan dalam arti  sebenarnya, yaitu pekerjaan yang produktif, seperti, misalnya pekerjaan petani, buruh, tukang, dan pekerjaan yang non-produktif seperti pekerjaan para prajurit, politikus, dan ahli filsafat. Kegitan golongan non-produktif terakhir itu tidak menciptakan nilai baru melainkan hanya memindahkannya.
            Namun anehnya, sekaligus denagn mendudukkan pekerjaan pada singgasana segala nilai, pekerjaan menurut teori ekonomi klasik yang sama-yang mendapat rumusnya yang paling tajam oleh David Ricardo-dianggap sebagai salah satu faktor produksi saja yang dijual-belikan sama seperti faktor-faktor produksi lain menurut harga pasaran.
            Paham itu membuat implikasi bahwa dalam penentuan hubungan kerja pertimbangan-pertimbangan moral seperti masalah keadilan suatu kontrak kerja dianggap tidak pada tempatnya. Nilai tenaga kerja diukur melulu menurut hubungan tawar-menawar saja. Dan karena kedudukan majikan (apalagi buruh belum menyadari bahwa ia pun mempunyai kekuatan, asal bersatu, kesadaran mana hanya diperolehnya melalui perjuangan), tenga kerjnya dapat di hisap sampai batas terakhir kemampuan fisiknya oleh majikan. Keadaan nyata para buruh pada zaman kapitalisme purba membenarkan logika ini.
            Apa akibat penghisapan itu bagi si buruh, digambarkan ols Karl Marx. Pekerjaan yang sebenarnya mengembangkan, memperkaya dan membenarkan kepribadian manusia, malah mempersempit, mempermiskin dan menghina dia. Si buruh tidak bekerja karena ia berminat akan pekerjaannya itu, meleinkan karena terpaksa. Sebagai ganti nafkah hidupnya ia harus menjual tenaga kerjanya kepada orang lain yang menguasai merasarana kerja yang dibutuhkan buruh agar ia dapat bekerja. Dalam pekerjaannya si buruh marasa diperalat. Maka pekerjaanya menjadi asing baginya dan ia merasa terasing didalamnya: “ pekerjaan itu sesuatu yang lahiriah bagi buruh, tidak termasuk hakikatnya, ia tidak membenarkan diri didalam pekerjaan melainkan menyangkal diri, tidak kerasan didalamnya melainkan menderita, pekerjaan tidak mengembangkan tenaga fisik dan mentalnya melaikan memati-ragakan fisiknya dan merusak mentalnya. Si buruh barukerasan diluar pekerjaanya.
Walaupun Marx dalam analisanya melakukan suatu kesalahan besar-ia mengidentifikasikan keterasibngan dalam pekerjaan melulu sebagai akibat hak milik peribadi atas alat-alat produksi saja dan dengan demikian melahirkan ilusi bahwa asal hak milik itu di hapus, si buruh sudah pasti bebas dan manusiawi lagi-namun analisanya menjukan sesuatu yang penting: selama si buruh dalam pekerjaanya merasa diperalat, dihisap, tidak dihargai, tidak diperlakukan sebagai manusia dan tidak mendapat imbalan yang wajar (imbalan atas pemakaian tenaga-hidup buruh dalam pelerjan hanya wajar apabila memungkinkan buruh sekeluarganya hidup dengan wajar)-mustahilah ia dapat mengembangkan suatu sikap positif terhadapnya. Dan dengan demikian kita telah memperoleh suatu titik tulak yang penting terhadap masalah etos kerja. Selama si pekerja dalam pekerjaannya dihisap tenaganya dan tidak dihargai sebagai manusia bebes dan berperasaan yang bercita-cita membangun hidup bahagia, tak masuk akalah untuk menuntut suatu etos pekerjaan daripadanya. Bahkan-pada latar belakang analisa Hegel-tuntutan semacam itu munafik: dibelakng omungan luhur tentang “ etos pekerjaan” Nampak kepenting egois sang “ tuan” terhadap pekerjaan”budaknya”: ia hidup daripadanya. Himbauan peningkatan etos pekerjaan ditelanjangi sebagi usaha peningkatan penghisapan tenaga kerja buruh. Menutut suatu etos pekerjaan mengandaikan pengakuan nyata terhadap martabat dari pihak yang menjadi alamat tuntutan itu.
Kesimpulan diatas memaksa kita untuk merefleksikan apa yang terjadi apabila kita menutuntut suatu etos. Dengan kata “etos” dimaksud sikap kehendak. Etos ini misalnya sikap yang dikehendaki sesorang terhadap kegiatan ilmiahnya; atau bagaimana ia menentukan sikapnya sendiri terhadapnya.
              Etos itu ada hubungan erat dengan sikap moral, walaupun dua-duanya tidak seluruhnya identik. Kesamaan teletak dalam kemutlakan sikapnya itu. Dua-duanya disadari sebagai sikap yang mutlak atau wajib yang diambil terhadap sesuatu. Perbedaanya terletak dalam tekanan.”sikap moral” menegaskan orentasi pada norma-norma sebagai standar-standar yang harus saya ikuti. Sedangkan “etos” menegaskan bahwa sikap itu dalah sikap yang sudah mantap dan “biasa”, sesuatu yang nyata-nyatamempengaruhi, yang menentkan bagaimana saya atau sekelompok orang mendekati dan melakukan sesuatu. Maka istilah “etos” mengungkapkan “semangat dan sikap batin tetap sesorang atau sekelompok orang sejauh didalmnya termuat tekanan-tekanan moral dan nilai-nilai moral-moral tertentu”. Maka etos adalah sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki dan yang tidak dapat di paksa. Etos juga tidak dapat dibuat begitu saja, misalnya karena saya mau menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan masyarakat. Etos pertama-tama adalah istilah deskriptif, jadi etos menggambarkan sikap mental yang ada.tetapi karena dalam melakukan pekerjaan atau profesi (etos pekerjaan, etos profesi) atau dalam menjalankan hidup (etos hidup sekelompok sosial tertentu) kita mengarapkan atau bahkan menutut adanya sikap tertentu dan menilai sikap-sikap tertentu sebagai tidak memadai, kata etos lantas juga mendapat arti normative sebagai sikap kehendak yang dituntut agar dikembangkan.
              Melihat arti kata etos itu, siapa yang menuntut suatu etos meski mengundang sejumlah pertanyaan. Menutut suatu etos disatu pihak mengandung kritik terhadap etos yang ada-buat apa menuntut suatu etos kalau etos yang de facto terdapa nilai memuaskan?-dipihak lain mengharuskan sesuatu kepada orang lain (kalau hanya bagi dirinya sendiri, tak usahlah diumumkan). Tetapi apa dasar penilaian bahwa suatu etos yang ada dianggap kurang memuaskan? Dan dimana dasar wewenang untuk menuntut sesuatu dari orang lain?
              Pertanyaan itu lebih mendasak lagi mengingat tuntutan etos bernada moral. Etos adalah sikap yang diambil berdasarkan tanggungjawab moralnya. Mengingat sikap ini adalah sikap kehendak, maka tuntuntan peningkatan etos secara implicit memuat tuduhan bahwa alamatnya itu mempunyai kehendak yang kurang baik, bahkan bahwa ia manusia yang kurang baik, dan bahwa ia menutunt etos itu tahu bagaimana orang lain harus bersikap supaya menjadi manusia baik.
              Memberikan penilaian semacam itu dulu barabgkali dianggap biasa saja. Otoritas-otoritas-atau siapa yang menganggap diri sebagai otiritas di bidang pendidikan, agama, politik, dan seterusnya sudah biasa menilai secara moral, mereka cepat sekali tahu siapa dari bewahan mereka itu manusia yang baik dan dan siapa yang buruk (hal mana juga menguntungkan kedudukan bagi otoritas-otoritas itu sendiri: bawahan menjadi takut dinilai buruk, maka lebih mudah akan tunduk). Namun sikap naïf itu sekarang kurang meyakinkan lagi. Dari Karl Marx (analisa kepentingan kelas) dan Sigmund (analisa kepentingan psikis) kita tahu terlalu banyak tentang latar belakang dan maksud yang sebenarnya dari penilaian-panilaian otoritatif itu. Begitu pula, biarpun orang merupakan ahli ilmu pengetahuan dan perencanaan masyarakat, keahliannya tidak menjangkau bidang etos (walaupun apabila ia mengejewantahkan suatu etos tinggi dalam bidangnay, ia bisa menjadi contoh atau tokoh suatu etos, bukan karena keahliannya, melainkan karena bobot lekpribadiannya). Itu tidak berarti bahwa bidang etos kharus diserahkan kepada perasan-perasaan irasional, bahwa tidak dapat didekati secara rasional dan obyektif. Itu hanya berarti bahwa dalam bidang etos tidak ada pihak yang lebih ahli daripada yang lain.
              Lantas bgaimana kita bicara tentang etos ? satu-satunya cara ynag wajar adalah cara dialogis. Doalog tentang etos hanya mungkin dijalankan antara pihak-pihak yang bebas dan sama kedudukannya. Setiap paksaan dan tekanan mesti manggagalkan. Begitu pula perkataan yang otoritatif. Dalam hal etos semua pandangan dunia, harapan normative, fiksasi ideologis, semua keyakinan sama haknya. Tidak ada pandangan yang a priori unggul. Pendapat sendiri hanya dapat dikemukakan sebagai ajakan terhadap pihak-pihak ang nyata-nyata diakui sebagai sama kedudukannya. Suatu etos hanya dapat diterima dengan bebas, karena yakin. Suatu etos baru harus disepakati.
              Makamkalau analisa Hegel dam Marx menunkjukkan bahwa menuntut suatu etos pekerjaan dari kaum buruh yang sekaligus dihisap tenaga erjanya itu tidak masuk kal, analisa terhadap paha etos menunjukkan hal sama secara positif.: suatu etos hanya dapat disepakati secara bebas dan dialogis, oleh pihak-pihak yang sama kedudukannya. Pengertian ini dengan sendirinya akan diperhatikan kalau kita sekarang menempatkan masalah etos pekerjaan ke dalam konteks masyarakat indonesia.[3]

2.      PENGERTIAN ETOS KERJA
Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani; akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang. Etos, kata Greetz adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup.[4] Pada Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.[5]
Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa apapun mempunyai etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain. Kerajinan, gotong royong, saling membantu, bersikap sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya adalah bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada bangsa lain tidak.
Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.
Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja re-definisikan, etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat.
Di republik ini, Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Professional Putra Putri Indonesia dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Kerja adalah Rahmat
  2. Kerja adalah Amanah
  3. Kerja adalah Panggilan
  4. Kerja adalah Aktualisasi
  5. Kerja adalah Ibadah
  6. Kerja adalah Seni
  7. Kerja adalah Kehormatan
  8. Kerja adalah Pelayanan
Sifat-sifat yang mencerminkan etos kerja yang baik yaitu : Aktif, Ceria, Dinamis, Disiplin, Efektif, Efisien, Energik, Fokus, Gesit, Ikhlas, Interaktif, Jeli, Jujur, Kerja Keras, Kerja Tim, Konsisten, Kreatif, Lapang Dada, Membagi, Menghargai, Menghibur, Optimis, Peka, Rajin, Ramah, Sabar, Semangat, Tanggung Jawab, Tekun, Teliti,  Tepat Waktu, Teratur, Terkendali, Toleran, Total, Ulet.
Etos Kerja Pancasila
Etos kerja Pancasila merupakan pemikiran; nilai-nilainya dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila, yang tidak tertulis secara eksplisit, tetapi harus digali lebih dalam, khususnya pada sila Ketuhanan yang Maha Esa. Keunikan etos kerja ini dengan etos kerja lainnya bisa dilihat dari 10 ciri utamanya, yaitu:
  1. Spesialisasi
  2. Rasionalitas
  3. Sistematis
  4. Efisiensi
  5. Konsistensi
  6. Kerajinan
  7. Kerja keras
  8. Ketekunan
  9. Pengharapan
  10. Cinta Kasih
Tentu bukan hanya ini saja nilai-nilai dalam sistem kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Masih ada kejujuran, keadilan, kesabaran, kesopanan, tolong menolong, dan bersikap ramah, dan nilai-nilai etis lainnya. Namun, hanya sepuluh (10) nilai ini yang ingin ditonjolkan sebagai bentuk sederhana dari etika kerja Pancasila.Bila mau dijabarkan dalam bentuk prasa, berikut adalah etos kerja yang hendak disodorkan kepada putra-putri Indonesia:
1.      Bekerja dengan Rasa Tanggung-jawab, 2. Bekerja pada Pekerjaan Sesuai Bakat, 3. Bekerja Secara Rasional, 4. Bekerja Secara Sistematis, 5. Bekerja dengan Efisien, 6. Bekerja Keras, 7.Bekerja dengan Rajin, 8. Bekerja dengan Tekun, 9. Bekerja dengan Pengharapan, 10.Bekerja dengan Cinta Kasih
Tentu, etos kerja ini belum secara jelas terlihat dalam kehidupan masyarakat seperti etos kerja Barat atau Jepang, yang sudah melekat pada masyarakatnya. Seperti visi Indonesia Raya, etika kerja Pancasila masih dalam bentuk cita-cita. Namun, dengan etos kerja inilah bangsa Indonesia mampu mencapai negara yang adil dan makmur, cita-cita yang diikrarkan oleh para pendiri bangsa ini.[6]
Etos Kerja Dalam Pandangan Islam
Dan katakanlah : "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS At-Taubah, 9 : 105)

Berangkat dari pandangan dunia tradisional yang tidak mendikotomikan antara yang sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Dalam ushuluddin disebut-sebut perihal konsep ma'ad atau qiyamah yang bila diterjemahkan dalam keseharian akan sangat mendukung sekali terhadap profesionalisme dalam bekerja. Di sini konsep ma'ad atau qiyamah bukanlah suatu konsep di langit-langit Platonik melainkan sesuatu yang hidup, membumi.
Penghayatan yang mendalam terhadap prinsip ma'ad akan berimplikasi positif dan konstruktif terhadap perkembangan kepribadian kaum Muslim. Setidaknya dengan menghayati prinsip tersebut, pemuda Muslim tidak mengenal istilah pengangguran.
Perspektif Islam yang padu, menolak membedakan antara yang sakral dan yang profan, yang ukhrawi dan yang duniawi, yang religius dan yang sekular atau, secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu'-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional.[7]
Istilah ‘kerja’ dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara.
Dengan kata lain, orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, kategori ahli Syurga seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manajer, direktur, teknisi dalam suatu bengkel dan sebagainya. Tetapi sebaliknya Al-Quran menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (al-falah) itu adalah orang yang  banyak taqwa kepada Allah, khusyu sholatnya, baik tutur katanya, memelihara pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya (QS Al Mu’minun : 1 – 11).[8]
3.      PENGEMBANGAN ETOS KERJA
Saat kita berbicara mengenai sebuah lembaga pendidikan maka di dalamnya harus terdapat kurikulum yang paradigmatik, guru yang amanah dan memiliki kompetensi di bidangnya, proses belajar mengajar, lingkungan dan budaya kampus. Selain itu, terdapat ruang interaksi dan sinergi dengan keluarga dan masyarakat. Adanya interaksi dan sinergi ini diharapkan dapat menciptakan manusia Indonesia yang dirindukan pada abad mendatang, yaitu manusia yang memiliki kualitas SDM-nya serta mentalitasnya.
Jika dimensi ini benar-benar tercipta sudah barang tentu ia sudah siap menghadapi bahkan siap sebagai pelaku di era teknologi itu karena salah satu agenda penting bagi bangsa kita di abad 21 adalah mengusahakan agar kualitas tenaga kerja kita menjadi tenaga kerja bersaing dengan kemapanannya. Sumber daya manusia bangsa ini perlu dikembangkan hingga mencapai kualitas yang setara dengan bangsa-bangsa yang telah maju terlebih dahulu dibandingkan Indonesia. Hal ini semakin penting, karena selain masalah ekonomi yang menjadi penyakit akut di Indonesia, sesungguhnya kualitas SDM menjadi titik kritis sentral dalam proses tata kemajuan peradaban suatu bangsa secara luas baik dilihat secara politik, teknologi, kultural, maupun manajerial.
Studi-studi sosiologi dan manajemen dalam beberapa dekade belakangan bermuara pada satu kesimpulan yang mengaitkan antara etos kerja manusia (ataukomunitas) dengan keberhasilannya: bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku dan nilai-nilai yang diadopsi individu-individu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya.
Melalui pengamatan terhadap karakteristik masyarakat di bangsa-bangsa yang mereka pandang unggul, para peneliti menyusun daftar tentang ciri-ciri etos kerja yang penting. Misalnya etos kerja Bushido dinilai sebagai faktor penting dibalik kesuksesan ekonomi Jepang di kancah dunia. etos kerja Bushido ini mencuatkan tujuh prinsip, yakni:
1. Gi - keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran; jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat:
2. Yu - berani dan bersikap kesatria:
3. Jin - murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama:
4. Re - bersikap santun, bertindak benar:
5. Makoto - bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih:
6. Melyo - menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan, serta
7. Chugo - mengabdi dan loyal.
Begitu pula keunggulan bangsa Jerman, menurut para sosiolog, terkait erat dengan etos kerja Protestan, yang mengedepankan enam prinsip, yakni:
1. bertindak rasional,
2. berdisiplin tinggi,
3. bekerja keras,
4. berorientasi pada kekayaan material,
5. menabung dan berinvestasi, serta
6. hemat, bersahaja dan tidak mengumbar kesenangan.
Pertanyaannya kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini. Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial, ekonomik dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan? Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta?
Dalam buku "Manusia Indonesia" karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan’, dan banyak lagi.
Untuk itu, agar perkembangan etos kerja bangsa Indonesia dapat berkembang, maka tidak ada salahnya bisa meniru ataupun mengikuti prinsip-prinsip yang terapkan oleh etos kerja Bushido dan etos kerja protestan.


[1] http://sharedofblog.blogspot.com/2011/02/pengertian-filsafat-pancasila.html

[2] http://mukhliscaniago.wordpress.com/2011/01/02/dasar-dasar-filsafat-pendidikan-pancasila/

[3] Magnis, Franz and Soseno, 1999, Berfilsafat Dari Konteks, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
[4] Taufik Abdullah, Agama, Etos kerja dan Perkembangan Ekonomi (Jakarta: LP3ES, 1986), h. 3
[5] http://www.putra-putri-indonesia.com/pengertian-etos-kerja.html

[6] www.putra-putri-indonesia.com/etos-kerja-pancasila.html
[7] http://aljawad.tripod.com/arsipbuletin/etoskerja.htm
[8] web.ipb.ac.id/~kajianislam/pdf/Etos.pdf

Sabtu, 14 Mei 2011

BETAPA BERARTINYA SEBUAH KELUARGA!

14 MEI 2011
wah wah wah... mungkin bingung ya dengan judul catatan ku kali ini..... but, it's the real. wanna know, why? sebelumnya izinkan aq sedikit bercerita ya......!
jujur saja sebenarnya hari ini sungguh sangat melelahkan, seperti teman2 sekalian tau kan, semester 6 sedang sibuk2nya dengan PPL 1. tadi aq baru ajha selesai final test tuk PPL 1. kembali ke kamar kost ya...bisa dibilang cukup nyaman untuk beristirahat melepas lelah. tapi ko rasanya males buka TV (biasanya kan aq selalu nonton tv sehabis kuliah, takut ketinggalan update berita jey.....hehehehe...........). ups...... keingat harus bikin laporan PPL, langsung ajha buka laptop. wait...wait....wait...... bukannya buka di E yang ada file "my college"nya, malah buka "D" ada folder "movies" langsung deh q buka, keingat kemaren baru beli vcd obralan, tapi original lhooo......! heheehe. kebetulan dah aq copy. sbenarnya sih waktu beli ga terlalu interest banget yaaaaaaa............ dari pada beli harga asli, mending beli 3 biji dengan harga 15.000 rupiah doank kan....... cie cie cie.... pulangnya sih gaya, plastiknya bertuliskan 'gramedia' hahahaha...padahal barang obralan. Upz....... jauh melenceng dari cerita guys.....!
Okey to the point ajha! the title is "everybody's fine", ceritanya seputar masalah keluarga. seorang pria yang baru 8 bulan kehilangan istrinya, dia memiliki 4 orang anak yang' disangkanya' semuanya adalah orang yang sukses dengan cita-citanya masing2. suatu hari dia berencana mengadakan pesta kecil berharap seluruh keluarganya terkumpul bersama. satu minggu sebelum hari H, seluruh ananknya bersedia untuk hadir, lalu dia mempersiapkan segalanya, dari makanan, wine, membersihkan kebun, rumah dan sebagainya dengan harapan seluruh anaknya akan senang dengan semua ini. akan tetapi sungguh sangat disayangkan, 3 hari menjelang hari H seluruh anaknya satu persatu menyatakan ketidakmampuannya untuk pulang berkumpul bersamanya, could you imagine what he felt at that time? alone/ no one accompanied him!  pada adegan ini, air mataku sudah tak mampu lagi ku tahan, yang ada dibenakku saat ini hanyalah "my dad" he is alone in our home, right now!
ok...... back to the movie! kemudian sang ayah berencana untuk mengunjungi anak2nya satu persatu yang semuanya tersebar di 4 negara bagian di penjuru USA, New York, Chicago, Denver and the last, Las Vegas! sebelum keberangkatannya sebenarnya dia sempat check kesehatan ke tempat dokter yang biasa merawatnya, sang dokter menyarankan untuk beristirahat saja di rumah, akan tetapi itulah kekuatan seorang ayah yang sangat rindu dengan anaknya, memang sekarang ini zaman sudah sedemikian canggih dengan handphone dan internet, tapi tetap saja terasa bedanya dengan bisa berhadapan langsung, bertemu dengan orang yang sangat dia sayang. dia pun berkeras hati untuk berangkat, berharap dengan memberi kejutan kepada seluruh anaknya, mereka akan senang dengan kedatangannya! akhirnya dia pun berangkat, menemui satu persatu anak-anaknya, sebenarnya dia tau bahwa ada sesuatu yang mereka tutup2i darinya, tapi dia mencoba bersabar berharap mereka akan menceritakannya sendiri, memang diakui dia tidak cukup dekat dengan anak2nya, karena terlalu sibuk bekerja, tapi semenjak sang istri meninggal dia bertekad untuk bisa menjadi seorang yang dipercayai anak2nya untuk berbagi cerita dalam suka maupun duka. okey.... capek juga ya bercerita kaya gini..... if you wanna know the complete story, i will lend you the VCD or give you the file, !
film yang satu ini benar2 telah menyadarkanku, bahwa keluarga itu begitu berarti, memang q akui semenjak kehilangan ibu sekitar 8 bulan yang lalu, aq seolah kehilangan arah, tak dapat mengontrol diri dengan baik, suka terlarut oleh perasaan, aq bahkan mengabaikan segalanya, aq juga tidak sanggup sebenarnya untuk menerima orang baru dalam keluargaku, apalagi seseorang yang berusaha untuk mengganti posisi Ummi dalam keluargaku, okey... bibirku memang mampu mengatakan "iya..." tapi jauh dilubuk hatiku terdalam, aq menderita, aku menolak mentah-mentah semua itu, hati kecilku selalu berperang mulut, pikirkan kebaikan ayahmu, dey? jangan egois! tapi apa hanya aq yang harus mengerti, aq juga ingin dimengerti.
aq mencoba menerima semua ini, tapi what happened then? they divorced. Wah.... kepalaku ko rasanya bertambah berat ya bebannya. aq juga tak mengerti kenapa aq yang terbebani, padahal aq sering mengatakan pada diriku sendiri bahwa, mungkin itulah yang terbaik. Perlu waktu memang untuk mengembalikan kestabilan emosi dan perasaan.
kalau dilihat sepintas, hidupku memang biasa2 saja, seolah-olah aq bisa menghandle segalanya, aq bisa bersabar and menghadapi semua ini, tapi jauh dilubuk hatiku yang terdalam, aq ingin berteriak, "AKU TIDAK SANGGUP" atau juga "KENAPA HARUS AKU YANG MENGHADAPI SEMUA INI". aq sering iri melihat kehidupan orang lain yang sangat mulus2 saja, seolah datar2 saja, dari cerita mereka dan apa yang aku lihat aq selalu berkata "betapa beruntungnya mereka" kenapa tuhan tidak menjadikan aq seperti itu saja, aq ingin keluargaku kembali lengkap seperti dulu, aq ingin benar2 bisa tertawa lepas tanpa beban.
BERSAMBUNG!

Minggu, 01 Mei 2011

KEMBALIKAN KOTA SERIBU SUNGAIKU.......!

kemaren adalah hari dimana telah membangkitkan kenangan2an dimasa lalu. pada dasarnya aq adalah seorang yang ga bisa berenang dan paling takut dengan yg namaya naik kapal ato dalam bahasa banjar disebut sebagai 'kelotok', tapi kemaren seharina penuh aq bertualang keliling kota banjarmasin melewati alur sungai martapura yang terbentang mengelilingi kota banjarmasin yang juga dikenal sebagai kota seribu sungai. Tapi kemaren aq berhasil menaklukkan semua ketakutan itu, aq bahkan berani berdiri dengan tegaknya di atas atap 'kelotok'. benar kata orang, ketakutan itu janganlah dipelihara, tapi harus dilawan dengan niat sanggup tuk taklukkan itu, dan ternyata benar, aq telah membuktikannya.

ketika duduk di atas atap 'kelotok' satu hal yang terbayang dibenak ku, berhasil membangkitkan kenangan indah q dengan seseorang, yang biasa q sebut "aa ayien" gimana tidak, diawal tahun ini tadi q berpetualang alias liburan sih dengan si-aa hehehe... ketika itu juga kami harus naik 'kelotok' untuk menyebrang dari pantai batakan ke pulau datu, saat itu yang ada dibenakku cuma pengen teriak saking takutnya, tapi yang membuat q masih sanggup bertahan adalah orang yang berada disampingku yang dengan sangat erat mendekap tangan q. "calm down, Dey... I'm with you "he said. Ahaa......... inilah pengalaman pertama q yang indah, walaupun hubungan ini harus break dalam waktu yang sangat singkat 'only a week'.

yupz...... kembali ke topic awal, sebelum ini isu tentang sungai di Kalimantan Selatan sudah sering ditemui dan ditemukan dimana-mana. Dari sampah yang sudah tidak dapat diatur lagi, orang-orang pada buang sampah di sungai, itulah yang bikin semua ini semakin miris tuk dilihat. mungkin saatnya untuk mengembalikan citra kota seribu sungai yang sebenarnya bukan dengan sebutan kota sejuta sampah.

Selasa, 08 Maret 2011

KONGRES NASIONAL XVII PMII DI KALIMANTAN SELATAN

Rabu, 9 maret 2011........ Pagi-pagi sekali  Dey dah bangun, nyante nonton tv dan menikmati berita-berita yang disajikan. Pada awalnya memang ga ada rencana mau ikut hari ini, walaupun beberapa hari yang lalu telah diberi kabar bahwa Dey dipercaya menjadi salah satu panitia daerah acara Kongres Nasional PMII ke-17, tapi karena belum mendapat konfirmasi lanjutan maka Dey santai-santai ajha.
tiba2 eh da yg nelpon.... ayo berangkat katanya. ya udah........I am ready to go to Asrama Haji- Banjarbaru- South Borneo.
Bersama seorang teman pun akhirnya Dey berangkat, kurang lebih pukul 09.30 dey sudah tiba di tempat acara. Pertama datang, Dey bingung minta ampun, dimana neh tempatnya? Wkwkwkwk........... aneh juga sih sebagai salah satu panitia tapi kurang tau segala sesuatunya. hehehehe................
karena lom tau mau kemana neh, Dey memutuskan nyante dulu aaaaaaaaah, duduk-duduk di bawah pohon. Eh, da yg datang menghampiri, ternyata para sahabat dari sul-sel, nyempet2in kenalan dulu deh dgn sahabat2 dari daerah laen. hehehehee...............