Sabtu, 12 November 2011

Catatan November Q...........

November.......
2011 hampir berlalu tidak sampai dua bulan lagi tahun akan berganti. tapi pertanyaan yang saat ini paling mengganjal di benakku adalah "Progress apa saja yg telah Q buat setahun ini?"
sulit rasanya untuk menjawab pertanyaan yang mungkin itu ku tujukan untuk diriku sendiri, tapi in fact, tidak banyak hal berarti yang ku lakukan setahun ini. semuanya terasa biasa-biasa saja, selain mulai bisa mendapatkan income sendiri, walaupun masih harus disokong oleh kiriman bokap tiap bulan, heeee.......
so........... mungkin aku harus mulai ngelist segalanya:
- Education
dari segi pendidikan mungkin agak menurun, IPK terakhirku cuma 3,5
whatz????????????????/// please deh........
- Ekonomi
lumayan bisa diharapkan, dengan mengajar Bahasa Inggris and Amtsilati yaaaach setidaknya bisa tuk belanja-belanja hal-hal diluar keperluan.
urusan bisnis clothing yang mulai dirintis juga lumayan bisa berkembang dengan baik, semoga taon depan sudah bisa buka Distro n brand sendiri.....
- Love
kalo yang satu ini sih.. mampus deh...........
kacau......kacau........kacau..................
ga ada yang beres! Apa gak ada ya lelaki yang mau nerima segala kekuranganku,walau Q sadar aku bukan apa-apa dan siapa-siapa.
- Ibadah
Rabb........ ampuni segala dosaku... Q akui Q benar-benar lalai..................

Kamis, 25 Agustus 2011

Psikologi Pendidikan


FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Menurut Slameto faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dibagi menjadi tiga, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
A.  Faktor keluarga
    Keluarga berperan penting dalam proses belajar seseorang, dalam artian pengaruh keluarga sangatlah besar terhadap pencapaian keberhasilan seseorang di dalam suatu studi. Antara lain faktor yang dapat mempengaruhi belajar seseorang yang timbul dari keluarga seperti berikut ini:
       (1) Cara orang tua mendidik
             Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Orang tua yang kurang memperhatikan pendiidkan anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mau tahu kemajuan-kemajuan anaknya dalam belajar, kesulitan kesulitan yang ia alami dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya.
         (2) Suasana rumah
              Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada mahasiswa untuk belajar dengan baik. Suasana rumah yang tegang, ribut dan sering terjadi cekcok dan pertengkaran antara penghuni anggota keluarga atau dengan keluarga lain menyebabkan anak suka keluar rumah yang akibatnya belajarnya menjadi kacau.
              Perselisihan, pertengkaran, percekcokkan, tidak ada tanggung jawab bersama antar kedua orang tua akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan terhadap diri mahasiswa. Hal semacam ini membuat pikiran mahasiswa tidak mempunyai pendirian dan konsentrasi belajar.
Mahasiswa yang sedang dalam proses studi memerlukan suasana rumah yang nyaman dan kondusif untuk studinya. Dan suasana yang nyaman di rumah seperti rumah yang jauh dari suara-suara bising, keramaian, pertengkaran dan lain-lain yang bisa memecahkan konsentrasi belajar mahasiswa.
        (3) Pengertian orang tua
             Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah, Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan anak yang dialami di sekolah.
             Pengertian yang diberikan keluarga terutama orang tua besar sekali peranannya dalam proses studi mahasiswa. Mahasiswa yang sedang dalam proses studi atau pun mereka yang baru memasuki kehidupan belajar di kampus terkadang lemah semangat karena sulitnya memahami dan mempelajari materi-materi kuliah serta banyaknya tugas-tugas kuliah yang diberikan dosen. Tentu pengertian orang tua dan motivasinya amat membantu dan mengurangi beban dan kesulitan yang dialaminya.
        (4) Keadaan ekonomi keluarga
             Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak, anak yang sedang belajar selalu harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar, meja, kursi, penerangan, alat menulis, buku-buku dan lain-lain.
Faktor ekonomi seringkali menjadi ganjalan dalam melaksanakan proses belajar, sehingga ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat diri mahasiswa untuk membantu bekerja meningkatkan ekonomi keluarga, tentu bekerja sambil belajar akan banyak menguras tenaga dan pikiran dan dapat berakibat pada kelelahan sehingga fokus belajar pun terpecah dan hasilnya pun kurang baik. [1]

B.  Faktor sekolah
Faktor sekolah merupakan faktor yang turut andil dalam membantu proses belajar individu. Perguruan tinggi sebagai tempat belajar mahasiswa dapat membantu proses belajar mereka atau sebaliknya. Adapun penunjang akademik yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa seperti tenaga pengajar, fasilitas dan media belajar, dan penyelenggaraan perkuliahan yang padat.
1. Peranan tenaga pengajar
   Dalam kegiatan perkuliahan, tenaga pengajar/dosen memiliki peran penting dalam membantu proses belajar mahasiswanya. Dosen sendiri adalah tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi kependidikan yang berkewajiban membawa mahasiswa ke arah tujuan pendidikan nasional.
   Dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi, dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar (yang menyampaikan perangkat ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa), tetapi juga sekaligus bertindak sebagai pembimbing, yaitu sebagai wali yang membantu mahasiswa mengatasi kesulitan dalam studinya, pribadinya dan pemecahan berbagai masalah lainnya.
   Dalam hal ini, dosen yang tidak mengetahui fungsi dan tanggung jawabnya sebagai tenaga profesional akan bertindak semaunya dan tentunya proses belajar-mengajar yang tidak sehat akan terbentuk.
2. Fasilitas dan media belajar
   Fasilitas seringkali menjadi penghambat dalam proses belajar, fasilitas yang kurang memadai dan tidak/kurang menunjang proses belajar mengajar akan mengurangi minat individu untuk belajar. Fasilitas disini, khususnya untuk kegiatan perkuliahan seperti ruangan belajar yang nyaman, bangku dan meja, perpustakaan serta ruang praktikum, tempat ibadah dan kamar kecil tersedia dengan baik.
   Media belajar seperti buku-buku dan bahan cetakan yang disediakan di perpustakaan tersusun dengan baik dan selalu diperbaharui dan ini kan memberikan semangat kepada mahasiswa untuk selalu belajar.
3. Penyelenggaraan perkuliahan yang padat.
    Banyaknya mata kuliah yang terkumpul pada berapa hari menyebabkan adanya kegiatan kuliah siang dan pagi hari. Keadaan semacam ini besar pengaruhnya terhadap kegiatan studi mahasiswa. Perkuliahan yang seperti ini akan menyebabkan kurangnya konsentrasi, melelahkan, bahkan juga dapat mengganggu kesehatan mahasiswa bersangkutan.
4. Status asal sekolah mahasiswa
    Berkaitan dengan tempat belajar/sekolah, dalam proses belajar di perguruan tinggi, terutama pada semester awal kuliah. Latar belakang status asal sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mahasiswa. Pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan sebelum memasuki perguruan tinggi dapat membantu proses belajar mereka. Hal ini pun diungkapkan oleh Oemar Hamalik, bahwa perilaku awal (entry behavior) seperti, bakat, pengalaman, minat dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya turut menentukan hasil belajar seorang siswa.
    Status asal sekolah merupakan keadaan asal sekolah individu yang belajar. Keadaan asal sekolah individu yang belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu individu yang berstatus asal sekolah negeri dan individu yang berstatus sekolah swasta.
    Sekolah negeri merupakan sekolah yang masih mendominasi dunia pendidikan Indonesia. Sekolah umum dikatakan negeri karena dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. Sekolah ini mendapatkan subsidi (bantuan) sepenuhnya dari pemerintah. Sehingga segala sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar dipenuhi oleh pemerintah.
Sekolah swasta merupakan sekolah yang dirintis oleh masyarakat atau personal tertentu, sehingga segala sarana dan prasarana kegiatan belajar disesuaikan dengan kemampuan perintis atau personal tertentu.
    Perbedaan dari keduanya adalah kepemiliikannya, oleh karena itu secara umum biaya di sekolah swasta sedikit mahal, karena sekolah swasta tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah. Pendapatan mereka berasal dari uang yang dibayarkan siswa-siswa.
    Adapun perbedaan lainnya yang mengambarkan kedua status asal sekolah tersebut, seperti:
1. Sekolah Negeri
  • Secara umum memperoleh input siswa dengan prestasi hasil ujian pada jenjang pendidikan sebelumnya lebih baik dan rata-rata siswa memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi terutama karena faktor lingkungan.
  • Secara umum kondisi sosial ekonomi dan akademik maupun fasilitas belajar dari orang tua relatif lebih baik.
  • Keberadaan tenaga kependidikan rata-rata lebih stabil dan tingkat kompetensi maupun kesejahteraan yang lebih baik.
  • Fasilitas pembelajaran relatif lebih baik dan lebih berkembang
2. Sekolah Swasta
  • Input siswa dengan nilai rata-rata ujian akhir maupun prestasi berada di bawah siswa yang masuk sekolah negeri maupun swasta tertentu itupun untuk memperoleh siswa sesuai dengan daya tampung, kondisi sekarang cukup berat.
  • Secara umum daya dukung sosial ekonomi, akademik dan fasilitas belajar dari orang tua kurang memadai.
  • Fasilitas pembelajaran di sekolah juga kurang memadai, bahkan bisa dikatakan kurang layak.
  • Keberadaan tenaga pendidikan baik dari segi kompetensi, stabilitas, kesejahteraan masih cukup memprihatinkan.
          Sekolah negeri dan swasta sendiri dapat diklasifikasi lagi, bahwa ada sekolah beragama dan sekolah umum. Sekolah agama sendiri merupakan sekolah yang memprioritaskan pengetahuan agama yang harus dimiliki siswanya lebih dalam, ini terlihat dari intensitas pelajaran agama yang dimiliki sekolah negeri atau swasta lebih banyak ketimbang sekolah umum. Kemudian siswa yang belajar di dalamnya memiliki status agama yang sama.
         Dan sekolah umum sendiri merupakan sekolah yang tidak memperioritaskan pelajaran agama ini terlihat dari intensitas pelajaran agamanya lebih sedikit daripada sekolah agama. Dalam sekolah umum ini dapat dijumpai siswa dengan latar agama yang berbeda.
         Dari kedua hal perbedaan di atas maka ditengarai terdapat perbedaan prestasi akademik tingkat pertama antara mahasiswa yang berstatus asal sekolah swasta dengan mahasiswa yang berstatus sekolah negeri.[2]

C.  Faktor Masyarakat
     Dinamika yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat bisa mendorong dan mengganggu kelancaran proses studi mahasiswa dan ini erat hubungannya dengan diri mahasiswa itu sendiri, antara lain:
1. Wilayah asal sekolah
    Keberadaan asal sekolah mahasiswa merupakan lingkungan tempat seseorang bersekolah sebelum melaksanakan kegiatan belajar di perguruan tinggi. Wilayah/ lingkungan asal sekolah seorang mahasiswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua tempat, yaitu desa dan kota.
       Bentuk kehidupan di desa dan di kota memiliki andil dalam proses belajar seseorang. Ini ditekankan oleh Slameto bahwa masyarakat menjadi faktor yang berpengaruh terhadap belajar. Pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat tersebut. Kegiatan siswa dalam suatu masyarakat dapat memberikan untung terhadap perkembangan pribadinya atau sebaliknya.
      Dari lingkungan asal sekolah mahasiswa yang terdiri dari desa dan kota, maka berikut perbedaan keduanya berikut masyarakat yang ada di dalamnya:

a. Masyarakat Desa
    Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang berada di desa. Sedangkan Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh jumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ciri-ciri dari masyarakat pedesaaan:
     Menurut Soerjono Soekanto ciri-ciri masyarakat pedesaaan ialah sebagai berikut:
  1. Warga masyarakat pedesaan memiliki kekerabatan yang kuat, umumnya berasal dari satu keturunan.
  2. Corak kehidupan bersifat gemeinschaft, yaitu didikat oleh sistem kekeluargaan yang kuat.
  3. Masyarakat desa bersifat fellow to face group, artinya antara penduduk yang satu dan yang lainnya saling mengenal.
  4. Masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari sektor pertanian dan perkebunan.
  5. Sifat gotong royong masih tertanam kuat.
  6. Ketua kampung memegang peranan yang cukup penting dalam masyarakat.
  7. Masyarakat desa pada umumnya masih memegang norma agama secara kuat.
      Ahli lain mengemukakan bahwa masyarakat desa bersifat fatalisme, yaitu rendahnya wawasan pikiran masyarakat desa untuk menanggapi atau merencanakan masa depan mereka.
     Ditinjau dari segi pendidikan dan teknologi. Pendidikan tentu berpengaruh banyak pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang umumnya berpendidikan tinggi akan lebih sejahtera, sebab mereka lebih tahu bagaimana mencari jalan keluar dari masalah-masalah seputar kehidupan dengan lebih baik daripada orang-orang yang tidak berpendidikan setinggi mereka.
     Di desa, pada umumnya tingkat pendidikannya hanya sampai SMA. Adapun mereka yang berasal dari desa yang telah melanjutkan pendidikannya sampai ke universitas (sarjana), kebanyakan tidak kembali ke desanya, dan tidak mengusahakan suatu pengembangan bagi desanya.
    Kemudian dari segi teknologi, pada masyarakat pedesaan teknologi yang ada masih sangat tradisional. Semua pekerjaan dalam kehidupan masyarakat dilakukan dengan sarana dan prasarana apa adanya.
b. Masyarakat kota
    Banyak ahli mendefinisikan masyarakat kota seperti Yadi Ruyadi dalam bukunya yang berjudul Memahami Sosiologi. Ia mendefinisikan masyarakat kota sebagai kelompok penduduk yang anggotanya sangat heterogen, terdiri dari berbagai lapisan atau tingkatan masyarakat dengan tingkatan pendidikan, status sosial ekonomi, dan daerah asal atau kampung halaman yang berbeda. Lebih jelasnya ia memberikan ciri-ciri masyarakat yang tinggal di perkotaan sebagai berikut:
  1. Adanya heterogenitas sosial, yaitu masyarakat yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sangat beraneka ragam.
  2. Sikap hidup penduduk bersifat egois dan individualistik.
  3. Hubungan sosial bersifat gesselschaft, artinya bahwa hubungan sosial ini tidak didasarkan pada sifat kekeluargaan atau gotong royong, tetapi lebih didasarkan pada hubungan fungsional.
  4. Norma-norma keagamaan tidak begitu ketat.
  5. Pandangan masyarakat kota lebih rasional dibandingkan masyarakat desa. Hal ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah perkotaan lebih cepat diterima oleh masyarakat.
      Kemudian secara sederhana Astim Riyanto menyimpulkan ciri-ciri masyarakat kota sebagai masyarakat yang lebih menekankan pada pikiran (rasional) daripada perasaan. Lalu masyarakat kota relatif terbuka pada perubahan dan pembaharuan, baik yang dating dari dalam maupun dari luar negeri. Oleh karena itu masyarakat kota lebih dinamis dan cepat pertumbuhan dan perkembangannya.
      Ditinjau dari segi pendidikan, di kota terdapat banyak pusat pendidikan, universitas, pusat-pusat penelitian yang dapat meningkatkan pengembangan kota tersebut. Masyarakat kota pun umumnya berpendidikan tinggi (minimal SMA) dan memiliki potensi SDM yang lebih baik. Mereka dapat mengusahakan suatu bidang usaha menjadi lebih optimal hasilnya. Kemudian dari segi teknologi, pada masyarakat kota banyak dijumpai teknologi dari mulai yang rendah sampai pada teknologi yang canggih. Jenis dan jangkauan teknologinya bervariasi.
      Dari perbedaan yang telah diterangkan di atas bahwa jelaslah lingkungan kehidupan di desa berbeda dengan kehidupan di kota. Slameto mengungkapkan bahwa kehidupan masyarakat di sekitar siswa berpengaruh terhadap belajarnya. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, serta akses informasi dan teknologi yang kurang memadai di lingkungan tersebut tentu menghasilkan pribadi siswa yang bebeda dengan kondisi masyarakat yang heterogen (menerima perbedaan dan perubahan) dan dimudahkan dengan akses informasi dan teknologi yang bervariasi serta lingkungan pendidikan yang memadai.

2. Pergaulan dengan lawan jenis
    Pada prinsipnya tidak ada halangan bagi mahasiswa untuk berhubungan dan mengadakan pergulan dengan lawan jenis selama dalam batas normal. Pergaulan dengan lawan jenis sendiri dapat berdampak positif, seperti pemberian dukungan dan motivasi belajar sesama lawan jenis, tapi bisa juga sebaliknya. Pergaulan dapat menimbulkan berbagai masalah ketika terjadi ketidakharmonisan dalam hubungan. Bahkan, sampai terjadi pertengkaran dan permusuhan dan hal itu akan berdampak pada kemunduran belajar mahasiswa yang bersangkutan.

3. Bekerja sambil kuliah
    Bekerja sambil kuliah bukanlah hal yang dilarang, selama mahasiswa yang bersangkutan dapat belajar dan mencapi hasil yang baik. Bahkan bekerja dapat mendukung proses belajarnya jika sesuai dengan tujuannya dalam proses belajar.
    Bekerja sambil kuliah dapat menunjang akademik mahasiswa yang bersangkutan, jika pekerjaan yang dilakoni sesuai dengan tujuan akademiknya diperguruan tinggi. Akan tetapi tentunya tujuan dan niat mahasiswa untuk bekerja berbeda-beda. Ada mahasiswa yang bekerja dengan tujuan untuk menunjang kegiatan akademiknya, ada yang berniat untuk menambah pemasukan dan ada yang ingin meringankan beban biaya yang ditanggung oleh orang tuanya.
    Tidak hanya memberikan dampak positif, seringkali bekerja sambil belajar bisa menjadi penghambat dalam belajar. Pekerjaan/tugas di dalam bekerja yang banyak akan berdampak pada kurang fokusnya mahasiswa dalam belajar serta kelelahan pun seringkali menyerang mahasiswa yang kuliah sambil belajar dan berdampak pada kemalasan dan kejenuhan.
    Slameto mengungkapkan bahwa untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian dengan bahan yang dipelajarinya. Kemudian menurutnya juga, bahwa faktor kelelahan dapat mempengaruhi belajar seseorang. Seyogianya mahasiswa menghindari jangan sampai terjadi kelelahan.

4. Aktif berorganisasi
    Dalam proses belajar di perguruan tinggi, terutama pada masa awal perkuliahan, mahasiswa dikenalkan dan diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai aktivitas/kegiatan yang dapat mengembangkan kepribadiannya, bakat serta kemampuan di berbagai bidang di luar bidang akademik. Seperti mengikuti organisasi yang ada di kampus, baik intra maupun ekstra. Kemudian kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler atau yang dikenal dengan UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang dapat berbentuk kegiatan pada seni, olahraga, pengembangan kepribadian dan kegiatan lain yang bertujuan positif untuk kemajuan mahasiswa tersebut.
    Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa. Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas-kampus.
    Aktif berorganisasi dapat membantu perkembangan individu mahasiswa menjadi lebih baik, karena banyak pelajaran/hal penting yang dapat mahasiswa dapatkan jika aktif dalam berorganisasi. Akan tetapi terlalu banyak berorganisasi dan melakukan berbagai kegiatan baik di kampus atau di masyarakat terkadang memberikan keasyikan tersendiri, sehingga mahasiswa yang bersangkutan lupa akan tujuan utamanya, yaitu belajar. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya absen kuliah dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan dosen karena berorganisasi tentu hal tersebut memperburuk prestasinya dalam belajar.
    Oemar Hamalik mengungkapkan bahwa terlalu banyak berorganisasi adalah kurang baik dalam arti akan menyebabkan kelalaian dalam belajar dalam hal ini keaktifan berorganisasi menjadi penghambat bagi studi mahasiswa.
    Selama mahasiswa dapat mengatur waktu dengan baik serta dapat menyeimbangkan dan mengetahui hal yang prioritas dan tidak, tentu berorganisasi dapat menjadi salah satu faktor penunjang dalam mencapai prestasi belajar.

5. Lingkungan belajar yang kurang mendukung.
    Lingkungan belajar yang mendukung dan kondusif, seperti masyarakat yang baik serta kawan-kawan yang saling memotivasi dalam belajar akan berdampak pada proses belajar yang baik pula. Dan sebaliknya, lingkungan yang tidak kondusif seperti gaduh, kacau dan banyak maksiat, akan mengganggu konsentrasi belajar.
    Lingkungan belajar erat kaitannya dengan kediamanan/domisili mahasiswa ketika melaksanakan proses kegiatan belajar di perguruan tinggi. Secara umum mahasiswa banyak yang memilih kost sebagai tempat kediamanannya selama belajar di perguruan tinggi, tetapi ada juga yang memilih untuk tinggal bersama kedua orang tuanya atau sanak keluarganya.
    Kost sebagai tempat tinggal merupakan pilihan bagi banyak mahasiswa yang berasal dari daerah. Kost sendiri biasanya tidak terlalu jauh dari perguruan tinggi tempat mahasiswa belajar. Dan kost pun berfungsi sebagai tempat singgah dan belajar bagi seorang mahasiswa.
     Ketika mahasiswa memilih untuk mengekost itu berarti mahasiswa memulai kehidupannya untuk mandiri. Di sini mahasiswa dituntut untuk memenuhi dan melaksanakan kehidupannya dengan sendiri dan tanpa bantuan orang tuanya secara fisik. Kehidupan mahasiswa yang kost penuh dengan dinamika, terutama pada awal kuliah, mahasiswa kost dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi ini dengan cara mengenal baik kondisi lingkungan di sekitarnya. Kondisi lingkungan kost hendaknya tenang dan jauh dari rangsangan-rangsangan pengganggu yang merusak konsentrasi belajar.
    Kemudian mahasiswa kost dituntut untuk memenuhi kebutuhannya dengan sendiri, seperti memasak, mencuci, bersih-bersih dan merencanakan segala sesuatu seperti perencanaan keuangan, belajar serta penyediaan alat-alat belajar dan lain-lain. Kehidupan mahasiswa kost yang penuh dengan keterbatasan dan dinamika akan banyak mengganggu konsentrasi mahasiswa dalam proses belajarnya di perguruan tinggi dan berlanjut pada pencapaian prestasi yang kurang memuaskan.
    Menurut Slameto Konsentrasi besar pengaruhnya terhadap belajar. Jika seseorang yang mengalami kesulitan berkonsentarasi, jelas belajarnya akan sia-sia, karena hanya membuang tenaga, waktu dan sia-sia. Seseorang yang sering mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dikarenakan keadaan lingkungan (bising, semerawut, cuaca buruk dan lain-lain), pikiran kacau dengan banyak urusan dan masalah-masalah.
Berbeda halnya dengan kehidupan mahasiswa yang memilih tinggal bersama kedua orang tuanya dan sanak keluargannya. Mahasiswa yang dalam hal ini tinggal bersama dengan orang tuanya akan lebih ringan kehidupannya, karena mahasiswa yang bersangkutan tidak harus mengurusi hal-hal seperti mencuci, memasak dan bersih-bersih, dalam artian mahasiswa mendapatkan dukungan keluarga secara fisik, sehingga yang bersangkutan lebih dapat konsentrasi dengan belajarnya. Kemudian mahasiswa yang tinggal bersama orang tua tidak perlu khawatir jika membutuhkan biaya-biaya tak terduga dalam kegiatan belajarnya di perguruan tinggi.[3]


Yang termasuk faktor eksternal antara lain:
1. Faktor pengaturan belajar disekolah ( kurikulum, disiplin sekolah, guru, fasilitas belajar, dan pengelompokan siswa ).
2. Faktor sosial disekolah ( sistem sosial, status sosial siswa, dan interaksi guru dan siswa ).
3. Faktor situasional ( keadaan politi ekonomi, keadaan waktu dan tempat atau iklim). (W. S. Winkel, 1983: 43).[4]


[1] http://teacher16.blogspot.com/2010/05/faktor-faktor-eksternal-yang.html
[2] http://teacher16.blogspot.com/2010/05/faktor-faktor-eksternal-yang_22.html
[3] http://teacher16.blogspot.com/2010/05/faktor-faktor-eksternal-yang_3700.html
[4] http://belajarpsikologi.com/faktor-yang-mempengaruhi-prestasi-belajar/

Minggu, 21 Agustus 2011

FASTING BREAK TOGETHER

Exactly when all of people in Indonesia celebrate their Independent Day, namely August 17. My friends in English Department'08 Antasari State Institute for Islamic Studies, Banjarmasin and I hold an event to strengthen our friendship and brotherhood, This is it......."Fasting break together, Ramadhan 17 "
check it out....!












Rabu, 29 Juni 2011

My argumentative essays task

WHY IS MONOLINGUAL ENGLISH DICTIONARY SUGGESTED TO USE THAN BILINGUAL DICTIONARY IN ENGLISH FOR FOREIGN LANGUAGE LEARNING ?
NURUL HIDAYAH
SRN: 0801249251

A dictionary is amongst the first things a foreign language learner purchases (Baxter 1980), student who learn english as foreig language usually bring dictionary and seldom to bring grammar book or other kind of english books. The most often question raised from EFL student, may be is “what dictionary should I use?”. Before I explain more about it, we have to know what is bilingual and monolingual dictionary. Bilingual dictionaries are dictionaries whose entries are in one language and whose definitions are in another. The most useful bilingual dictionaries are bi-directional. For example, a bilingual Indonesia dictionary consisting of English entries with Indonesia definitions and Indonesia entries with English definitions are far preferable to dictionaries that list words only uni-directionally. Monolingual dictionaries are dictionaries whose entries and definitions are both in a single language. For instance, a monolingual English dictionary has entry words in English, definitions in English, and all examples in English. Because of this, comprehensive monolingual dictionaries are useful only to very advanced learners of a foreign language. You must have an excellent grasp of the language to be able to interpret definitions, descriptions of usage, and other information in a foreign language. (No name. 2004. Finding the right foreign language dictionary (3)http://www.vistawide.com/books/types_of_dictionaries.htm ) According to Philips Scholfield in his article entitle “Why Shouldn't Monolingual Dictionaries be as easy to use as Bilingual or Semi-Bilingual ones?” mentioned that Surveys of learners’ use of dictionaries generally confirm the teacher’s suspicion that, way beyond the elementary level, many still prefer bilingual or semi-bilingual dictionaries to monolingual ones. Although the surveys said like that, it does not show that bilingual is the best. Most EFL teachers, language educators and researchers prefer their students to use the monolingual dictionary (Yorkey, 1970; Baxter, 1980; Ard, 1982; Snell-Hornby, 1984; Bloch, 1985; Hartmann, 1989; Soekemi, 1989 and Stein, 1990)(Koren. 1997. Quality versus Convenience: Comparison of Modern Dictionaries from the Researcher's, Teacher's and Learner's Points of View http://tesl-ej.org/ej07/a2.html). There are some reason why most EFL teachers  suggested monolingual dictionary to use.
One of the reasons for the educators' preference for the monolingual dictionary is the explanations of meanings. According to Yorkey (1970) and Snell-Hornby (1984) is that "BD [bilingual dictionaries, S.K.] are counterproductive because they culturate the erroneous assumption that there is a one-to-one correspondence between the words of the two languages". To strengthen the argument above, Koren (1997) prefers monolingual dictionaries mainly because bilingual dictionaries do not handle meaning distinctions of equivalent translation well, so that using monolingual is very help the learners to mastering the target language. The explanation of meanings is very clear and describe well what the words mean.
Second, specifications of a word's grammatical behavior.  it means that sometimes a word functions as a certain part of speech, like a noun, but other times it functions as a different part of speech, such as a verb. For example, the word 'play' can be a noun (a play that you want on stage; a performance) or a verb (to play with your toys).
Third, the illustration of the meaning and the syntactical use of a word with real language examples. (Zarei. 2010. #54, Research Paper: ‘The Effect of Monolingual, Bilingual, and Bilingualized Dictionaries on Vocabulary Comprehension and Production’ http://www.eltweekly.com/elt-newsletter/2010/03/54-research-paper-the-effect-of-monolingual-bilingual-and-bilingualized-dictionaries-on-vocabulary-comprehension-and-production-by-abbas-ali-zarei/) With using monolingual dictionary, A translation should convey to its reader the same message with the same aesthetic and other values, not to mention the same denotative meaning, which are conveyed by the original text.
On the other hand, if we learn a language as foreign language especially for the beginner can not use monolingual dictionary totally because beginners do not master the words in the target language yet at all so that if they use monolingual dictionary then do not understand, they also must use bilingual dictionary.
Finally, those are some reason why monolingual dictionary is really suggested to use to help the EFL learners to mastering English well and soon, although there is opposite reason about that, monolingual dictionary has still much advantages to use that very help the learners.













REFERENCES

Koren, S. (1997). Quality versus convenience: comparison of modern dictionaries from the teacher’s and learner’s points of view. TESL, 2: 1-16.

No Name. (2004). Finding the right foreign language dictionary (3) retreive 27 june 2011 (http://www.vistawide.com/books/types_of_dictionaries.htm)

 

Shira Koren. (1997). Quality versus Convenience: Comparison of Modern Dictionaries from the Researcher's, Teacher's and Learner's Points of View . Retrieve 27 june 2011 (http://tesl-ej.org/ej07/a2.html )


Snell-Hornby, M. (1984). The bilingual dictionary: help or hindrance? In R.R.K. Hartmann (Ed.), LEXeter '83 Proceedings. Tubingen: Max Niemeyer Verlag. 274-281. Mentioned by Aust, R. Kelley, M.J. & Roby, W.

Yorkey, R.C. (1970). Electronic dictionaries in CALL. Computer Assisted Language Learning 1, 95-109. Mentioned by Aust, R. Kelley, M. J. & Roby, W.

Zarei, Abbas Ali. (2010). #54, Research Paper: ‘The Effect of Monolingual, Bilingual, and Bilingualized Dictionaries on Vocabulary Comprehension and Production’ retrieve on 20 April 2011 (http://www.eltweekly.com/elt-newsletter/2010/03/54-research-paper-the-effect-of-monolingual-bilingual-and-bilingualized-dictionaries-on-vocabulary-comprehension-and-production-by-abbas-ali-zarei/)